MAKASSAR—Demo anti-Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Makassar berakhir rusuh. Ratusan mahasiswa dari Universitas 45 dan Universitas Muslim Indonesia (UMI), terlibat perang batu dengan polisi yang hendak membubarkan aksi mereka. Dalam insiden itu, mahasiswa menyandera dan memukuli seorang polisi.
Bentrokan tersebut berawal saat pengunjuk rasa menggelar aksinya di depan kampus UMI Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Senin (18/10) pukul 13.00 waktu setempat. Para demonstran menyampaikan tuntutan, salah satunya, menolak kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Makassar.
Bentrokan tersebut berawal saat pengunjuk rasa menggelar aksinya di depan kampus UMI Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Senin (18/10) pukul 13.00 waktu setempat. Para demonstran menyampaikan tuntutan, salah satunya, menolak kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Makassar.
Rencananya, Presiden akan datang, Selasa (19/10) hari ini, untuk membuka Rapat Koordinasi Gubernur se-Indonesia yang akan digelar di Hotel Clarion, Jalan Andi Pettarani, Makassar.
“Kami juga mendesak usut tuntas kasus Bank Century, usut tuntas kasus korupsi di Indonesia, menolak pelanggaran HAM, dan meminta pihak intelektual kawal penyelesaian kasus-kasus yang ada,” kata koordinator aksi, Muhammad Ali.
Namun, mahasiswa tak sekadar menyampaikan tuntutan. Mereka memblokade jalan, membakar ban bekas, bahkan menyandera mobil tangki Pertamina. Melihat demonstrasi yang mengganggu ketertiban umum, polisi pun datang. Namun, jumlah aparat tak sebanding dengan jumlah mahasiswa. Mereka hanya 30 orang.
Polisi mencoba melakukan negosiasi dengan pihak mahasiswa agar mereka membuka blokade jalan. Namun negoisasi itu buntu, sehingga bentrokan pun pecah. Karena jumlah polisi yang sedikit, mereka dipukul mundur oleh mahasiswa yang jumlahnya ratusan. Saat mundur dan melewati depan kampus Universitas 45, yang berdekatan dengan kampus UMI, polisi lagi-lagi dihujani batu.
Puluhan polisi melawan dengan ikut melempar batu. Selang beberapa menit, polisi menembakkan peluru karet berkali-kali. Empat motor pemburu polisi juga beraksi untuk mendesak mahasiswa masuk kampus. Perang mahasiswa dan polisi berlangsung kurang lebih 30 menit. Dalam aksi lempar batu ini, mahasiswa merusak mobil Ford Ranger milik polisi.
Polisi menangkap satu mahasiswa yang diduga terlibat. Mahasiswa itu dilarikan menggunakan motor perintis. Penangkapan salah seorang mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar oleh polisi ini berbuntut panjang. Mahasiswa membalas dan menahan seorang anggota polisi yang melintas di depan kampus UMI Makassar.
Polisi yang disandera para mahasiswa bernama Bripda Untung, anggota yang bertugas di bagian lalu lintas Polrestabes Makassar. Bripda Untung disandera saat tengah melintas di lokasi aksi. Bripda Untung tidak mengenakan seragam polisi, namun identitasnya terlihat pada helm yang dipakainya. Helm berwarna biru putih yang biasa digunakan oleh polisi lalu lintas.
Oleh para mahasiswa, Bripda Untung lantas digebuki ramai-ramai. Ada yang menendang dan menaboknya pakai helm. Setelah dipukuli, Untung digiring masuk kampus. Sebelum menahan Untung, mahasiswa sebenarnya sempat mencoba menangkap dua polisi yang lewat di depan kampusnya. Namun keduanya berhasil lolos. Hanya saja, motor salah seorang di antaranya tertinggal sehingga jadi sasaran amuk mahasiswa.
Barter
Sementara itu, proses negosiasi antara pihak kepolisian dari Polrestabes Makassar dan pihak rektorat Universitas Muslim Indonesia akhirnya mencapai kata sepakat. Bripka Untung, anggota Polrestabes Makassar ini akhirnya bebas dari kepungan mahasiswa UMI yang menuntut rekannya yang ditangkap polisi dibebaskan.
Sedangkan Ambo Tang, mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2008 juga dilepas oleh polisi setelah Bripka Untung tiba dengan selamat di wilayah konsentrasi polisi, di bawah Fly Over Urip Sumoharjo. Bripka Untung dibonceng dengan sepeda motor oleh PD III Fakultas Teknik UMI, Sakkir Sabhara. Sedangkan Ambo Tang yang wajahnya penuh dengan bekas lebam dijemput di Fly Over oleh Muhammad Basalamah, dari pihak Yayasan Badan Wakaf UMI. Proses barter ini disaksikan langsung oleh Kapolrestabes Makassar, Kombes Nur Samsul.
Menyusul maraknya aksi unjuk rasa anti-SBY, Polda Metro Jaya mengerahkan ribuan personel untuk mengantisipasi demonstrasi pada 20 Oktober 2010. Polisi juga akan mencegah datangnya massa dari luar kota yang akan masuk ke Jakarta. “Di titik-titik yang di lapangan ada 10.000 orang, sedangkan yang standby di pos ada 9.000 orang,” kata Kapolda Metro Irjen Pol Sutarman di Mabes Polri, Jakarta.
Juru Bicara Kepresidenan Bidang Dalam Negeri Julian Aldrin Pasha mengemukakan pada 20 Oktober 2010 tepat setahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, SBY akan berada di Jakarta. Presiden, menurut Julian menghormati para demonstran. Namun diharapkan, dalam melaksanakan aksinya mereka tetap berada di jalur hukum.
Presiden bersama Wakil Presiden Boediono sendiri, pada Senin kemarin melakukan pertemuan tertutup dengan pimpinan tujuh lembaga tinggi negara antara lain pimpinan MPR/DPR, DPD, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, dan Badan Pemeriksa Keuangan. (dtc/atm)
Add to Cart
“Kami juga mendesak usut tuntas kasus Bank Century, usut tuntas kasus korupsi di Indonesia, menolak pelanggaran HAM, dan meminta pihak intelektual kawal penyelesaian kasus-kasus yang ada,” kata koordinator aksi, Muhammad Ali.
Namun, mahasiswa tak sekadar menyampaikan tuntutan. Mereka memblokade jalan, membakar ban bekas, bahkan menyandera mobil tangki Pertamina. Melihat demonstrasi yang mengganggu ketertiban umum, polisi pun datang. Namun, jumlah aparat tak sebanding dengan jumlah mahasiswa. Mereka hanya 30 orang.
Polisi mencoba melakukan negosiasi dengan pihak mahasiswa agar mereka membuka blokade jalan. Namun negoisasi itu buntu, sehingga bentrokan pun pecah. Karena jumlah polisi yang sedikit, mereka dipukul mundur oleh mahasiswa yang jumlahnya ratusan. Saat mundur dan melewati depan kampus Universitas 45, yang berdekatan dengan kampus UMI, polisi lagi-lagi dihujani batu.
Puluhan polisi melawan dengan ikut melempar batu. Selang beberapa menit, polisi menembakkan peluru karet berkali-kali. Empat motor pemburu polisi juga beraksi untuk mendesak mahasiswa masuk kampus. Perang mahasiswa dan polisi berlangsung kurang lebih 30 menit. Dalam aksi lempar batu ini, mahasiswa merusak mobil Ford Ranger milik polisi.
Polisi menangkap satu mahasiswa yang diduga terlibat. Mahasiswa itu dilarikan menggunakan motor perintis. Penangkapan salah seorang mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar oleh polisi ini berbuntut panjang. Mahasiswa membalas dan menahan seorang anggota polisi yang melintas di depan kampus UMI Makassar.
Polisi yang disandera para mahasiswa bernama Bripda Untung, anggota yang bertugas di bagian lalu lintas Polrestabes Makassar. Bripda Untung disandera saat tengah melintas di lokasi aksi. Bripda Untung tidak mengenakan seragam polisi, namun identitasnya terlihat pada helm yang dipakainya. Helm berwarna biru putih yang biasa digunakan oleh polisi lalu lintas.
Oleh para mahasiswa, Bripda Untung lantas digebuki ramai-ramai. Ada yang menendang dan menaboknya pakai helm. Setelah dipukuli, Untung digiring masuk kampus. Sebelum menahan Untung, mahasiswa sebenarnya sempat mencoba menangkap dua polisi yang lewat di depan kampusnya. Namun keduanya berhasil lolos. Hanya saja, motor salah seorang di antaranya tertinggal sehingga jadi sasaran amuk mahasiswa.
Barter
Sementara itu, proses negosiasi antara pihak kepolisian dari Polrestabes Makassar dan pihak rektorat Universitas Muslim Indonesia akhirnya mencapai kata sepakat. Bripka Untung, anggota Polrestabes Makassar ini akhirnya bebas dari kepungan mahasiswa UMI yang menuntut rekannya yang ditangkap polisi dibebaskan.
Sedangkan Ambo Tang, mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2008 juga dilepas oleh polisi setelah Bripka Untung tiba dengan selamat di wilayah konsentrasi polisi, di bawah Fly Over Urip Sumoharjo. Bripka Untung dibonceng dengan sepeda motor oleh PD III Fakultas Teknik UMI, Sakkir Sabhara. Sedangkan Ambo Tang yang wajahnya penuh dengan bekas lebam dijemput di Fly Over oleh Muhammad Basalamah, dari pihak Yayasan Badan Wakaf UMI. Proses barter ini disaksikan langsung oleh Kapolrestabes Makassar, Kombes Nur Samsul.
Menyusul maraknya aksi unjuk rasa anti-SBY, Polda Metro Jaya mengerahkan ribuan personel untuk mengantisipasi demonstrasi pada 20 Oktober 2010. Polisi juga akan mencegah datangnya massa dari luar kota yang akan masuk ke Jakarta. “Di titik-titik yang di lapangan ada 10.000 orang, sedangkan yang standby di pos ada 9.000 orang,” kata Kapolda Metro Irjen Pol Sutarman di Mabes Polri, Jakarta.
Juru Bicara Kepresidenan Bidang Dalam Negeri Julian Aldrin Pasha mengemukakan pada 20 Oktober 2010 tepat setahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, SBY akan berada di Jakarta. Presiden, menurut Julian menghormati para demonstran. Namun diharapkan, dalam melaksanakan aksinya mereka tetap berada di jalur hukum.
Presiden bersama Wakil Presiden Boediono sendiri, pada Senin kemarin melakukan pertemuan tertutup dengan pimpinan tujuh lembaga tinggi negara antara lain pimpinan MPR/DPR, DPD, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, dan Badan Pemeriksa Keuangan. (dtc/atm)
0 comments:
Post a Comment
kirim comment kalian klo mo papun dalam blog ini....